Ads Header

Pages

Rabu, 20 Februari 2013

produk indonesia,kecintaan indonesia

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alamnya, negara kepulauan yang menghubungkan dari Sabang sampai Merauke. Dari pulau–pulau tersebutlah menghasilkan banyak sumber daya alam karena di setiap pulau berbeda akan kekayaan sumber daya alamnya. Namun, penyebaran penduduk di Indonesia belum merata khususnya di Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Papua, penduduknya tidak sepadat di Jawa. Program transmigrasi pun banyak dilakukan oleh pihak pemerintah untuk masyarakatnya, guna untuk pemerataan penduduk.
Hasil atau produk Indonesia pun sebenarnya kaya dan menghasilkan produk–produk yang berkualitas. Tentu yang seharusnya produk Indonesia itu menjadi tuan rumahnya di negeri sendiri. Namun, banyaknya monopoli dunia, produk luar negeri lebih memegang peranan pasar sehingga menjadikan minat masyarakat cenderung ke produk luar negeri.
Contohnya saja produk kecantikan Indonesia “Bali Ratih” yang tentunya produk ini sangat bagus untuk kulit Indonesia, serta ramuan–ramuan tradisional yang bahannya tidak keras dan berbahaya. Namun, produk ini tidak semenarik seperti “The Body Shop” produk luar negri yang berasal dari Inggris. Macam–macamnya pun sama, ada parfum, bodymist, sabun, body butter, lotion dan lulur atau polish. Namun, kebanyakan masyarakat Indonesia lebih memilih menggunakan The Body Shop karena produknya lebih mendunia dan terjamin daripada Bali Ratih produk lokal.
Contoh lain produk Indonesia yaitu “Sari Ayu”, “Mustika Ratu” dan “Viva” adalah produk kecantikan asli Indonesia yang kandungan di dalamnya tidak berat untuk wajah dan cocok untuk orang yang tinggal di wilayah tropis. Namun, kenyataannya masyarakat Indonesia banyak yang menggunakan produk luar seperti Revlon. Hal ini bisa terjadi karena tingkat kepercayaan konsumen yang tinggi pada produk luar negeri yang sudah mendunia dibanding dengan produk lokal, padahal produk lokal juga tidak kalah hebatnya dengan produk luar negeri.
Indonesia mengalami kendala mengenai produk dalam negeri yang kalah saing dengan luar negeri yang seharusnya bisa menjadi tuan rumah Indonesia yaitu kurangnya kesadaran masyarakat tentang pemakaian produk local karena kebanyakan dari masyarakat Indonesia lebih banyak mengkonsumsi atau menggunakan produk luar daripada dalam. Serta gaya mewah yang terjadi apabila memakai produk luar. Yang terjadi di Indonesia, apabila memakai produk luar itu berkesan elegan dan mewah karena harganya yang cenderung lebih tinggi dan kualitas yang dijanjikan telah bagus dan menyebar di seluruh dunia.
Kendala lain yaitu bahan dasar pembuat produk masih jarang atau bahannya sedikit. Ini juga bisa menimbulkan masyarakat lebih nyaman menggunakan produk luar karena produknya lebih banyak di pasaran daripada produk lokal yang hanya terdapat di gerai–gerai tertentu. Berbeda dengan produk luar yang beredar atau tersedia di hampir semua gerai kecantikan.
Penyebab Indonesia harus mengembangkan produk lokal agar memungkinkan menjadi tuan rumah Indonesia yaitu Indonesia tergerak untuk ikut maju bersama dengan negara maju lainnya. Seharusnya kita harus sebagai warga negara Indonesua harus bangkit dan bangga dengan produk lokal yang berkualitas dan menjadi tuan rumah untuk negerinya sendiri sehingga mempunyai rasa kecintaan tersendiri bagi Indonesia. Selain itu, Indonesia juga memerlukan bantuan dari pemerintah untuk mengembangkan usaha produk lokalnya agar bias menarik minat masyarakat dan kesadaran cinta tanah air.
Kelebihan yang ditawarkan oleh produk lokal antara lain yaitu harga lebih terjangkau karena secara otomatis harga produk local lebih murah dan cocok untuk semua kalangan, baik menengah ke atas maupun menengah ke bawah. Produknya pun tidak keras di kulit, aman untuk dipakai karena sesuai dengan iklim tropis. Kosmetik yang dibuat Indonesia ringan dan baik karena kosmetik yang baik yaitu dampak atau hasilnya tidak secepat prosesnya, jika hasilnya itu cepat dan instan biasanya produk tersebut tidak baik karena produk yang baik membutuhkan waktu dan jeda jaraknya agak lama karena tidak merusak generasi sel–sel kulit.
Keuntungan dari produk negeri bagi masyarakat Indonesia yaitu menambah kecintaan masyarakat terhadap tanah air Indonesia karena dengan membeli produk lokal atau dalam negeri berarti sama saja dengan bangga memakai produk lokal dan mencintai bangsanya sendiri. Selain itu Indonesia juga bertambah kaya dengan produknya yang laris di pasaran dan dapat mensejahterakan pekerja Indonesia.
Oleh karena itu, kita sebagai anak bangsa Indonesia seharusnya mampu mengembangkan dan mengolah sumber daya alam menjadi lebih berguna untuk bangsa Indonesia agar kita tidak selamanya dijajah oleh negara lain, baik secara langsung maupun tidak. Karena pada kenyataannya negara Indonesia itu kaya akan aneka ragam budaya dan sumber daya yang dapat menghasilkan produk local yang baik sehingga masyarakat seharusnya bisa menggunakan yang seharusnya digunakan.
Jadi, produk dalam negeri sangat memungkinkan untuk menjadi tuan rumah di negerinya sendiri dengan mengadakan penyuluhan-penyuluhan dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang cinta tanah air.

Hargailah Produk Dalam Negeri

Filed under: Essay — parapenuliskreatif @ 17:47
Tags: , , ,
M. Iman Ramadhan (09321110)

Belakangan ini kita telah dihadapkan dengan kemajuan jaman yang semakin terbuka, Pasar bebas merupakan embrio dari efek globalisasi ekonomi itu. Indonesia dikatakan banyak orang adalah negeri yang memiliki kekayaan cukup besar. Mulai dari sumber daya alam, dan sumber daya manusianya. Sayangnya Indonesia masih minim dengan sumber daya teknologinya. Apa boleh buat, mestinya semua aspek itu bisa ter-rumus menjadi satu demi kemajuan negara ini.
Terkait hal tersebut, muncullah pertanyaan besar akan produk yang dihasilkan dari negeri ini; “mungkinkah produk dalam negeri menjadi tuan rumah di negeri sendiri?”, adalah terkait sumber daya manusia, kualitas pendidikan, contoh kongkrit hasil yang diciptakan, dan kemajuan negara ini. Untuk lebih luasnya, mari kita jabarkan secara terstruktur.
Sumber Daya Manusia
Pesatnya perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan di dunia telah menciptakan struktur baru yaitu struktur global. Struktur itu memberikan keterlibatan bagi seluruh bangsa dunia termasuk negeri ini, Indonesia mau tidak mau juga harus ikut andil bagi perkembangan struktur baru itu. Sumberdaya manusia (SDM) merupakan salah satu faktor kunci dalam persaingan global, yakni bagaimana menciptakan SDM yang berkualitas dan memiliki keterampilan serta berdaya saing tinggi dalam persaingan global yang selama ini kita abaikan. Globalisasi yang sudah pasti dihadapi oleh bangsa Indonesia menuntut adanya efisiensi dan daya saing dalam dunia usaha. Dalam globalisasi yang menyangkut hubungan intraregional dan internasional akan terjadi persaingan antarnegara. Indonesia dalam kancah persaingan global menurut World Competitiveness Report tahun 2009,  menempati urutan ke-45 atau terendah dari seluruh negara yang diteliti, di bawah Singapura (8), Malaysia (34), Cina (35), Filipina (38), dan Thailand (40).
Terkait dengan faktor sumber daya manusia. Indonesia juga tidak terlepas dari kualitas pendidikannya. Tingkat pendidikan angkatan kerja yang ada masih relatif rendah. Struktur pendidikan angkatan kerja Indonesia masih didominasi pendidikan dasar yaitu sekitar 63,2 %. Kedua masalah tersebut menunjukkan bahwa ada kelangkaan kesempatan kerja dan rendahnya kualitas angkatan kerja secara nasional di berbagai sektor ekonomi. Lesunya dunia usaha akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan sampai saat ini mengakibatkan rendahnya kesempatan kerja terutama bagi lulusan perguruan tinggi. Sementara di sisi lain jumlah angkatan kerja lulusan perguruan tinggi terus meningkat. Sampai dengan tahun 2000 ada sekitar 2,3 juta angkatan kerja lulusan perguruan tinggi. Kesempatan kerja yang terbatas bagi lulusan perguruan tinggi ini menimbulkan dampak semakin banyak angka pengangguran sarjana di Indonesia.
Kualitas Pendidikan
Kualitas pendidikan Indonesia saat ini masih rendah dan bisa dibilang memprihatinkan. Masih sering dijumpai bangunan sekolah yang buruk kondisinya. Bahkan sekolah-sekolah yang beratapkan langit pun masih banyak. Siswa tidak mendapatkan pasokan buku yang memadai dan yang fatal lagi adalah mahalnya biaya sekolah. Padahal kita semua tahu bahwa pendidikan merupakan hak bagi seluruh warga negara Indonesia. Inilah realita yang dialami dunia pendidikan di Indonesia.
Kondisi di ataslah yang menghambat Indonesia untuk bisa bangkit mengatasi masalah rendahnya kualitas sumber daya manusia serta tingginya angka pengangguran. Minimnya kualitas dan fasilitas pendidikan tentunya berdampak secara signifikan terhadap kualitas manusia itu sendiri. Begitu banyaknya masalah yang dihadapi pemerintah tentunya tidak bisa kita selesaikan secara cepat.
Akan tetapi sebagian besar agen pendidikan di Indonesia sepertinya sudah menyadari tentang hal ini. Oleh karena itu banyak agen pendidikan di Indonesia lebih menekankan kualitas pembelajarannya kepada praktik kerja lapangan. Hal ini menghindari permasalahan tingkat pengangguran di Indonesia. Ada beberapa agen pendidikan Indonesia yang telah berhasil menghasilkan produk dalam negri untuk mengentaskan pengangguran itu.
Produk
Baru-baru ini saya melihat berita di TV tentang Mobil ESEMKA yang dibuat oleh siswa-siswa SMK di indonesia, perasaan haru dan bangga meliputi saya. Bagaimana tidak, masih menyandang siswa saja mereka sudah bisa membuat mobil, apalagi ketika pendidikan mereka sudah tinggi, diharapkan jangan hanya membuat mobil tapi bisa membuat perusahaan mobil sendiri yang bisa bersaing di tingkat Internasional. Kalau saja pemerintah mau untuk mendukung perihal bahan dasar yang dibeli dari luar negeri, tahun berikutnya mungkin kita akan membuat bahan dasar sendiri, tanpa harus membeli di negara luar.
Potensi yang dimiliki oleh siswa-siswa SMK Indonesia sebenarnya sangat besar. Jika tokoh-tokoh berpengaruh mau mendukung perkembangannya, tidak ada yang tidak mungkin, Indonesia akan memimpin teknologi di masa mendatang.
Karya anak bangsa khususnya SMK tidak hanya mobil saja tetapi berbagai macam barang elektronik & gadget, laptop, notebook, Mp3 Player, proyektor juga bisa mereka rancang. Mungkin dari pembaca semua ada yang pernah mendengar nama produk seperti zyrex. Zyrex ini adalah merek produk teknologi Indonesia yang dirakit oleh siswa-siswi SMKN di Mataram.
Tidak hanya itu, ada juga laptop yang mereknya bernama Funtop, laptop ini rakitan siswa-siswi SMK Banjar Jawa Barat. Produk Funtop ini ternyata berhasil menembus pasar jawa barat, Funtop juga tidak kalah dengan produk-produk luar negeri.
Kemajuan Negeri
Kondisi di atas kiranya telah memberi sebagian gambar besar bagi perkembangan bangsa ini. Sebuah bangsa tidak akan terus berkembang tanpa ditopang dari aspek sumber daya manusia, kualitas pendidikan, dan hasil produknya. Untuk lebih lanjut, kondisi itu mestinya kita sikapi dengan arif guna menciptakan siklus sosial dan kemajuan teknologi yang sehat.
Hal itu juga tidak terlepas dari pangsa pasar dalam negeri di Indonesia, banyak sekali produk Indonesia yang diekspor ke luar negeri. Kalau saja hasil produk yang diciptakan oleh anak bangsa di negeri ini bisa banyak dikonsumsi di negeri sendiri, mestinya akan menciptakan satu pangsa pasar yang lebih maju.
Sayang seribu sayang, sepertinya masyarakat kita masih tertutup matanya dari produk dalam negeri. Urusan gengsi yang menggerogoti konsumen di Indonesia adalah titik utamanya, tapi bukan hanya itu. Penghegemonian produk luar negeri yang sudah membentuk budaya populer dan menciptakan sub-sub kultur yang menghasilkan ‘anggapan umum’ (common sense). Hal itu juga tidak jauh ketika kita lebih memilih produk luar negeri ketimbang dalam negeri, padahal produk yang dihasilkan sama kualitasnya dan bangsa Indonesia masih memiliki kesadaran palsu (false consciousness) akan mengkonsumsi produk. Jadi, mungkinkah produk dalam negeri dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri?

Kebangkitan Karya Anak Negeri

Filed under: Essay — parapenuliskreatif @ 17:37
Tags: , , , , ,
Ira Pratica Dewi. S. (09321019)

Beberapa waktu terakhir ini, masyarakat Indonesia dikejutkan oleh anak-anak sebuah SMK di Solo, Jawa Tengah. Mereka berhasil membuat mobil rakitan mereka sendiri dan sudah dicoba oleh Walikota Solo, Jokowi. Jokowi merasa senang dan cukup puas melihat hasil karya anak SMK ini. Setelah berita itu tersiar beberapa waktu, masyarakat mulai menaruh pandangan positif untuk anak SMK yang dulunya sering dianggap anak SMK itu pasti nakal. Masyarakat juga menaruh harapan besar agar mobil tersebut dapat diproduksi besar-besaran.
Itulah sepenggal cerita dari anak negeri yang mulai berkarya untuk kemajuan negaranya sendiri. Pertanyaannya sekarang adalah apa mungkin produk dalam negeri bisa menjadi “raja” di negaranya sendiri? Masyarakat Indonesia sepertinya lebih mencintai dan mempercayai produk luar negeri. Berbagai alasan terlontar dari masyarakat yang lebih percaya produk luar negeri dari kualitas terjamin, bahan bagus, awet, dan menunjukkan suatu kedudukan jika membeli barang dari luar negeri. Mungkin hal inilah yang menjadi pendorong anak SMK Solo dan beberapa orang lainnya bertekad membuat produk sendiri dan dipasarkan dalam negeri. Jawaban dari pertanyaan atas tadi hanya ada dua, yaitu mungkin dan tidak, yang lalu diikuti faktor-faktor yang mendukung dan penghalang.
Barang buatan Indonesia dapat menjadi “raja” di negara sendiri apabila didukung oleh beberapa faktor, seperti adanya bantuan modal dari pemerintah, fasilitas yang memadai, dan yang terpenting adalah adanya kemauan dari pemerintah dan masyarakat untuk memakai produk dalam negeri. Dalam hal ini kita ambil contoh mobil ESEMKA, pembuatan mobil tersebut merupakan langkah awal dari masyarakat Indonesia untuk mulai menyukai produk dalam negeri. Pembuatan mobil ini dapat berjalan dengan baik dengan adanya bantuan dana dari pemerintah yang disalurkan pada sekolah. Dana tersebut digunakan pihak sekolah untuk memperlengkap fasilitas pembuatan mobil, mulai dari peralatan, bahan baku, dan juga pendidikan tentang perakitan mobil. Dengan adanya hal itu, mobil ESEMKA dapat dibuat untuk yang pertama kalinya.
Kemauan dari masyarakat dan pemerintah untuk menggunakan produk dalam negeri juga berperan penting. Disini perlu adanya kerjasama dari masyarakat dan pemerintah. Apabila masyarakat menginginkan mobil ESEMKA diproduksi massal, tapi pemerintah tidak mau membantu dalam hal-hal fasilitas yang memadai, itu sama saja pemerintah tidak mendukung produk dalam negeri. Bisa juga sebaliknya dengan pemerintah ingin semua masyarakat Indonesia menggunakan mobil ESEMKA, tapi masyarakat belum bisa mempercayai produk sendiri, mungkin dari perakitannya terjamin tidak, keselamatan terjamin tidak, dan berkualitas atau tidak. Maka dari itu, perlu adanya kemauan dari pemerintah dan masyarakat Indonesia sendiri untuk mulai mempercayai produk dalam negeri karena sebenarnya produk dalam negeri kualitasnya tidak jauh berbeda dengan produk luar negeri.
Produk Indonesia kemungkinan juga tidak bisa menjadi “raja” di Indoensia sendiri dengan adanya beberapa faktor. Sudah ada sedikit pembahasan di atas tentang kemauan dari masyarakat dan pemerintah dengan kekurangannya. Selain itu  bisa ditambahkan ini tidak dapat menjadi produk yang merajai negeri sendiri jika produk luar negeri masih terus datang ke Indonesia. Sebaiknya perlu adanya pembatasan produk luar negeri yang datang ke Indonesia, dengan cara ini produk di Indonesisa dapat berkembang. Faktor penghalang lainnya adalah kualitas barang yang kurang terjamin dan ini bisa terjadi apabila pembuatnya kurang terampil ataupun fasilitas yang kurang memadai. Bahan baku yang mahal atau susah didapat sering menjadi penghalang. Banyak masyarakat yang ingin mengembangkan bisnis produk dalam negerinya, tapi terbatas oleh bahan baku yang mahal yang kadang membuat produk tersebut berhenti diproduksi.
Produk dalam negeri kita saat ini sudah mulai banyak, banyak yang ingin memproduksinya, tapi penghalangnya juga banyak. Kesimpulannya adalah  perlu adanya dukungan dana dan pendidikan yang pantas bagi mereka yang ingin mengembangkan produk dalam negeri jika kita ingin Indonesia dapat sama dengan negara maju lainnya yang sudah dapat memproduksi barang sendiri dan dipakai oleh masyarakat Indonesia bahkan dunia.

Tuan Rumah Bagi Karya Anak Bangsa

Filed under: Essay — parapenuliskreatif @ 17:31
Tags: , , , ,
Dira Elita (09321015)

Banyaknya produk-produk buatan luar negeri yang beredar di Indonesia, membuat masyarakat Indonesia sendiri lebih mempercayai dan lebih bangga menggunakan produk buatan luar negeri ketimbang dalam negeri. Padahal produk-produk buatan dalam negeri ini sebenarnya tidak kalah jika dibandingkan dengan produk luar. Bahkan kualitasnya mungkin di atas produk tiruan buatan Cina yang juga membanjiri Indonesia. Sebenarnya produk dalam negeri sangat mungkin untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri karena didukung oleh beberapa hal, yang pertama adalah pengetahuan.
Ilmu pengetahuan yang semakin berkembang di Indonesia sangat memungkinkan untuk membuat produk-produk sekelas buatan luar negeri yang telah mendunia. Contohnya saja mobil Esemka, mobil buatan anak-anak SMK di Surakarta ini walaupun masih dibuat secara manual tetapi hasilnya tidak kalah dengan buatan luar negeri. Meskipun mobil ini belum lulus uji emisi, namun seharusnya kita patut berbangga karena tidak pernah terbayang sebelumnya bahwa Indonesia dapat membuat dan merakit mobil sendiri. Apalagi yang merakit mobil Esemka ini adalah para remaja yang masih duduk di bangku SMK. Itu merupakan salah satu bukti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Di tengah maraknya produk luar yang terus mendominasi pasaran Indonesia, tetapi anak-anak SMKN 2 Surakarta ini bisa membuktikan bahwa Indonesia juga bisa menyaingi produk-produk luar tersebut dengan bekal pengetahuan yang mereka dapat dari bangku sekolahnya.
Kemudian hal yang kedua adalah adanya dukungan media dan teknologi. Perkembangan teknologi internet dan sosial media yang sedang diminati masyarakat saat ini juga turut berperan penting dalam mengenalkan produk-produk buatan Indonesia. Dengan adanya kemudahan untuk mendapatkan informasi dan perkembangan tentang produk-produk tersebut, bukan tidak mungkin jika produk-produk dalam negeri ini nantinya akan menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Selain membantu mengenalkan produk-produk buatan dalam negeri, media juga berfungsi untuk membangun kepercayaan masyarakat Indonesia atas produk-produk buatan dalam negeri tersebut. Kepercayaan tersebut dibangun dari informasi, bagaimana kelebihan serta perkembangan produk dalam negeri itu.Serta pandangan dari orang-orang yang menulis pendapat atau pandangannya di forum maupun blog pribadinya berdasarkan informasi yang telah disebarkan melalui media cetak, elektronik maupun internet.
Mungkinkah produk dalam negeri bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri? Produk-produk dalam negeri ini bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri karena hingga ini saat ini tingkat impor barang-barang ke Indonesia masih tinggi dan Indonesia hampir tidak mempunyai produk-produk buatan dalam negeri sendiri. Dimulai dari hal kecil seperti baju sampai barang elektronik seperti handphone, mobil, dan motor pun masyarakat Indonesia masih mengandalkan produk buatan luar negeri ketimbang buatan dalam negeri sendiri. Padahal, harga dari produk-produk luar tersebut tentunya tidak murah karena sudah terkena biaya masuk Indonesia.
Bahkan barang-barang buatan Cina pun seakan tidak kalah untuk ikut mendominasi pasar Indonesia. Produk-produk buatan Cina yang kebanyakan “kualitas nomor 2” ini nyatanya tetap diminati masyarakat Indonesia. Karena ada sebagian masyarakat yang beranggapan, jika tidak sanggup membeli produk luar bermerk yang harganya selangit, membeli barang “kualitas nomor 2” buatan Cina pun sudah cukup. Padahal produk-produk tiruan Cina ini belum tentu berkualitas sama dengan produk aslinya. Mungkin hanya bisa bertahan selama beberapa bulan saja karena kebanyakan produk-produk tiruan Cina ini lebih mementingkan kemiripan barang dan bentuk daripada kualitas barang itu sendiri.
Dengan adanya produk dalam negeri diharapkan bisa menekan tingkat impor produk-produk luar negeri ke Indonesia. Karena sebenarnya Indonesia sendiri mempunyai potensi untuk membuat produk-produk yang setara dengan produk luar yang telah mendunia. Tetapi karena masyarakat Indonesia terbiasa dimanjakan oleh masuknya produk-produk dari luar berkualitas tinggi yang menyebabkan masyarakat merasa malas untuk menggali potensi yang ada. Karena sudah tersedia produk luar negeri yang bisa tinggal langsung digunakan tanpa harus dipikirkan dan dibuat terlebih dahulu. Padahal dengan memproduksi dan menggunakan produk dalam negeri, harganya bisa lebih murah daripada produk luar.
Kekurangan dari produk dalam negeri untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri adalah kurangnya dana untuk membuat dan mengembangkan produk-produk tersebut. Karena banyaknya masyarakat yang masih memandang sebelah mata produk buatan dalam negeri. Ini yang menyebabkan para investor ragu membantu dana untuk perkembangan produk buatan anak bangsa ini. Hal yang sama juga terlihat dari pemerintah Indonesia yang terkesan acuh tak acuh dengan produk-produk dalam negeri ini. Padahal jika pemerintah mau melihat dan memperhatikan produk-produk karya anak bangsa ini, bukan hal yang mustahil jika nantinya produk karya dalam negeri ini dapat berkualitas internasional dan dapat bersaing dengan produk luar yang telah mendunia.
Kemudian kekurangan lainnya adalah fasilitas yang ada di Indonesia tidak secanggih dan modern seperti produk luar negeri. Tidak sedikit produk dalam negeri yang masih manual dalam proses pengerjaannya sehingga memakan waktu lama. Padahal dengan adanya fasilitas yang memadai serta didukung oleh mesin-mesin yang modern dan canggih, dapat menghemat waktu karena pengerjaan menjadi lebih cepat. Selain itu tidak adanya dukungan pemerintah juga menjadi salah satu kekurangan dari produk dalam negeri tersebut. Sebenarnya salah satu bentuk pengenalan dan promosi terbaik produk-produk dalam negeri ini adalah dari pemerintah itu sendiri. Jika pemerintah sudah menggunakan dan menyatakan bahwa produk dalam negeri ini bagus dan layak pakai, maka masyarakat pun secara tidak langsung akan terpengaruh dan mulai memperhatikan produk tersebut. Sayangnya pemerintah Indonesia yang masih kurang peduli dengan produk karya anak bangsa. Hal inilah yang menghambat perkembangan dan kemajuan dari produk-produk buatan dalam negeri.
Produk-produk dalam negeri yang memungkinkan untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri tentunya mempunyai kelebihan. Di antaranya adalah dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat Indonesia. Seiring dengan semakin maju produk-produk buatan Indonesia untuk ke depannya, tentu membutuhkan jumlah tenaga kerja yang tidak sedikit pula. Apalagi jika misalnya produk-produk buatan dalam negeri ini benar-benar sukses dan diminati oleh pemerintah maupun masyarakat lain. Mobil Esemka buatan anak-anak SMK ini misalnya, Semenjak para siswa-siswa ini sekolah sudah dibekali pengetahuan tentang ketrampilan otomotif dengan merakit dan membuat mobil sendiri secara manual. Nantinya, setelah para siswa-siswa ini lulus dari bangku SMK, mereka bisa meneruskan kembali usaha perakitan mobil Esemka ini. Atau menciptakan lapangan pekerjaan baru berbekal pengetahuan otomotif yang mereka dapat di sekolah. Jika masih sekolah saja para siswa SMK ini sudah piawai merakit mobil, ketika mereka lulus nanti mereka pasti bisa menghasilkan produk-produk yang tidak kalah canggih dari mobil Esemka ini.
Kemudian kelebihan lainnya dengan menjadi tuan rumah produk-produk dalam negeri adalah dapat mengajak masyarakat untuk mencintai dan memakai produk-produk buatan dalam negeri. Karena Indonesia yang sebenarnya memiliki kekayaan yang melimpah baik itu kekayaan sumber daya alam maupun sumber daya manusia yang masih kurang digali potensinya. Dengan mencintai dan membeli produk karya anak bangsa sama artinya masyarakat Indonesia mendukung adanya produk-produk buatan dalam negeri. Adanya dukungan tersebut bisa menjadi pemacu para produsen-produsen untuk lebih serius dalam mengembangkan dan mengerjakan produknya. Sehingga nantinya produk-produk Indonesia bisa bertaraf Internasional dan bersaing dengan produk luar yang telah mendunia bukan lagi hanya angan-angan semata.

Meng-Industrikan Karya Anak Negeri, Bukan Proses Instan

Filed under: Essay — parapenuliskreatif @ 17:27
Tags: , , , , ,
Faiz Syauqy (09321062)

Belum lama ini, kepulangan Mobil Esemka disambut dengan sangat antusias oleh warga Solo, kendati mobil tersebut dinyatakan tidak lolos dalam uji emisi di Jakarta. Kebanggaan jelas nampak pada setiap warga yang berjajar di jalan raya. Apresiasi terhadap Mobil Esmeka pun meluas hingga level nasional, terbukti, mobil yang masih butuh banyak pembenahan khususnya di sektor mesin tersebut sudah dipesan hingga ratusan unit oleh beberapa kalangan masyarakat, khususnya kantor-kantor dinas berbagai daerah.

Antusias masyarakat Indonesia terhadap mobil ini sangat besar. Berita tentang mobil ini pun menjadi berita utama di berbagai media massa. Impian masyarakat untuk mengendarai mobil buatan Indonesia seakan terjawab dengan adanya Mobil Esemka ini. Bukan tanpa alasan, bentuk dan tampilan mobil ini sudah tergolong bagus, gagah, nan elegan sehingga masyarakat pun tertarik untuk memilikinya kelak ketika mobil Esemka diproduksi secara massal.
Tapi ternyata tidak secepat itu, masih butuh proses panjang agar mobil ini bias dikendarai oleh masyarakat Indonesia. Tidak se-instan itu untuk membuat mobil yang layak jual dan layak pakai. Butuh riset dan pengembangan yang matang olehpakar yang ada di Indonesia terkait faktor keselamatan, keramahan lingkunan atau emisi, dan masih banyak hal lain. Tidak cukup dari siswa atau lulusan SMK saja, akan tetapi perlu juga melibatkan orang yang sudah ahli di bidang mesin dan mekanika.
Bukan semata sikap pesimistis akan kemampuan siswa SMK, tapi lebih ke sikap logis dalam menanggapi fenomena ini. Tidak lolosnya Mobil Esemka dalam uji emisi merupakan bukti nyata bahwa karya anak siswa SMK itu masih jauh untuk menuju ruang lingkup Industri. Mobil Esemka masih dalam taraf hasil karya dari penerapan materi yang didapatkan siswa SMK di ruang kelas.
Sebenarnya  Indonesia tidak kekurangan pakar dibidang mesin. Hanya saja mereka lebih memilih untuk bekerja di perusahaan luar negri karena di Indonesia sendiri mereka merasa tidak cukup. baik dari segi apresiasi pemerintah terkait ketersediaan lapangan pekerjaan  atau dari segi ekonomi.
Anak-anak negeri yang sempat mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional melalu ikarya-karya ilmiah pun hanya mendapatkan ucapan selamat dari Presiden. Namun setelah itu semuanya berlalu begitu saja. Tidak ada upaya dari pemerintah untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh mereka, baik dengan memberikan fasilitas laborat untuk mengembangkan riset dan karya ilmiah mereka. Sehingga ketika sudah matang, mereka telah siap untuk mengembangkan industri-industri  di Indonesia.
Tidak bisa dipungkiri, campurtangan pemerintah menjadi hal terpenting. Seyogyanya, pemerintah memfasilitasi secara penuh dalam riset dan pengembangan karya ilmiah dalam negeri sehingga proses tersebut akan berlanjut dalam ruanglingkup industri. Tidak cukup hanya sebuah apresiasi. Perlu tindakan nyata dari Pemerintah dari awal, bukan hanya ucapan selamat ketika sekelompok siswa SMK mampu membuat sebuah karya ilmiah.
Kita tengok kembali tentang produk dalam negri kita yang pernah ada sebelumnya, seperti sepeda motor pabrikan lokal yang pernah diproduksi masal namun kini sudah tidak kelihatan lagi wujudnya. Itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa tidak semudah itu dalam membuat sebuah produksi berbasis dalam negri. Banyak aspek yang harus dipelajari dan dikaji secara serius, terkait kesiapan prasarana, bahan baku, maupun teknisi ahli yang akan menjadi supervisor dari anak-anak SMK.
Memangbutuh proses yang memakan waktu dan tentu saja persiapan yang matang untuk meng-industrikan produk atau karya anak negri. Agaknya, masyarakat Indonesia masih harus menunggu cukup lama untuk mengendarai mobil atau kendaraan yang murni produksi dalam negeri. Masyarakat harus menunda rasa bangga mereka karena mobil karya anak negeri yang akhir-akhir ini di elu-elukan masih harus melewati proses panjang untuk mencapai kelayakan baik kelayakan pakai maupun kelayakan jual. Kita harus menunggu keseriusan pemerintah untuk mendukung secara penuh karya ilmiah anak bangsa. Dukungan berupa ketersediaan sarana dan prasarana produksi, pengadaan bahan baku, dan faktor pendukung lainnya untuk masuk ke ruang lingkup industrial.

Read more

galau merusak prioritas hidup

‘Galau’ saat ini sebagian besar masyarakat Indonesia sudah tidak asing lagi dengan istilah ini, terlebih bagi kaum muda masa kini. Bimbang, risau, cemas, dan gundah gulana sepertinya sudah melekat menjadi satu istilah, yaitu ‘Galau’. Bisa berarti penyempitan kata ini menimbulkan penyempitan makna pula. Kali ini kita tidak akan menelisik asal usul kata galau itu bagi kalangan anak muda masa kini. Oleh karena itu, kita akan mengintip lebih jauh efek samping apa yang akan di timbulkan oleh galau ini yang sudah menjadi tren.
Tempo hari saya sempat membaca sebuah artikel yang mengulas topik soal “mengetahui perilaku orang Indonesia melalui internet” walhasil, mereka memberikan spesifikasi cinta, pacar, dan galau menjadi tema populer dalam perbincangan media sosial di Indonesia. Dalam pemantauan seminggu saja selama 25 sampai dengan 31 Maret 2012, cinta menjadi topik hangat di Twitter Indonesia dengan 489.110 tweet[1]. Celakanya ketiga tema itu memiliki keterkaitan secara berkala. Pada akhirnya, dari hasil penelusuran SX Indeks, Yogyakarta menjadi kota yang paling sering membicarakan tema pacaran sekaligus kota yang paling sering galau di Twitter.
Ada apa dengan galau? Pertanyaan ini tidak bisa kita jawab dengan singkat. Ada langkah-langkah khusus untuk memahami perilaku dan sifat yang muncul berkat galau ini. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) galau di maknai sebagai; sibuk beramai-ramai, ramai sekali, kacau tidak karuan (pikiran). Bahkan beberapa orang seringkali berpendapat bahwa galau merupakan sebuah perasaan tidak enak yang ada pada pikiran karena kita bingung entah karena masalah cinta atau masalah pekerjaan yang memaksa kita untuk memilih sesuatu sehingga membuat kita bingung dan membuat emosi kita menjadi labil. Sifat galau ini sering kali menjangkit anak muda, akan tetapi galau sewajarnya tak hanya menyerang anak muda saja, melainkan hampir semua usia bisa merasakannya.
Perbincangan galau mendekatkan kita pada persoalan kebebasan versus kesepian, seperti apa yang pernah dibicarakan oleh Karen Horney dalam psikoanalisis sosialnya mengenai konflik dan kecemasan. Dalam buku psikologi kepribadian (Alwisol, 2005: 172), Karen juga berpendapat konflik dalam diri sendiri adalah bagian yang integral dari kehidupan manusia, misalnya dihadapkan dengan pilihan dua keinginan yang arahnya berbeda, atau antara harapan dan kewajiban, atau antara dua perangkat nilai.  Semua hal yang dirasa berada di persimpangan menyebabkan konflik dalam diri, begitu juga halnya galau. Terlepas dari hal konflik dalam diri, sejatinya kegalauan juga berangakat dari hal-hal sukar seperti kecemasan dalam diri yang seringkali memberikan kita rasa takut. Kecemasan dasar merupakan asal-muasal dari takut, suatu peningkatan yang berbahaya dari perasaan berteman dan tak berdaya lagi dalam dunia yang penuh dengan ancaman. Oleh karena itu, jika sebagian besar orang sudah mengalami kegalauan akut, maka gejala-gejala ketakutan akan selalu
Akankah kegalauan merusak prioritas hidup? Belum lama ini, saya sempat dikirimkan beberapa karikatur tentang tren kegalauan yang menjangkit anak muda sekarang.  Hasilnya, Mice Cartoon™ memberikan contoh gambar perilaku saat galau itu menjangkit. Pertama, seseorang yang sedang terjangkit galau seringkali meng-update status jejaring sosialnya dengan penuh ratapan, kalimat melankolis, dan keluhan yang berkaitan seputar kehidupan pribadinya, celakanya itu hanya curahan hatinya saja. Kedua, merasa dirinya paling sengsara di dunia, padahal hanya sedang mengalami masalah yang sepele, dan seakan-akan langit sudah runtuh, sejatinya masih banyak orang lain yang punya masalah lebih besar, tapi tidak berlebihan seperti ini. Ketiga, generasi galau ini cendrung lebih mendengar lagu-lagu yang bernuansa mellow, sehingga menyakinkan mereka untuk larut dalam kesedihannya. Keempat, merupakan imbas dan efek yang hendak ditimbulkan oleh galau, yaitu mental cengeng ternyata bisa menjadi tren dikalangan generasi muda kini, ‘kalau nggak galau bisa dibilang nggak gaul’.menghampiri mereka, terlebih pada menurunnya kepercayaan diri mereka.
Setelah saya amati dan sempat saya alami juga, bahwa kegalauan adalah alegori dasar atas orang-orang neurotik. Neurotik tidak mesti diartikan sebagai penyakit gangguan urat saraf, melainkan kecendrungan orang yang seakan-akan tidak pernah puas akan kehidupannya. Sewajarnya manusia. Pencarian kemuliaan yang neurotik adalah gambaran secara luas dan lengkap ke dalam semua aspek kehidupannya sebagai ambisi, konsep diri dan hubungan dengan orang lain. Kebanggan neurotik adalah kebanggaan yang tak tampak, bukan didasarkan pada diri yang bertindak secara nyata, tetapi didasarkan pada gambaran palsu dari diri yang ideal, menurut (Alwisol, 2005: 178). Orang neurotik yang mencari kemuliaan tidak akan pernah puas dengan dirinya sendiri. Begitu juga halnya galau, yang secara sadar atau tidak sadar ia telah membawa kita pada persimpangan bahwa rasa bersyukur atas yang didapat dalam hidup tidak pernah ada, hasilnya kita hanya dihadapkan pada persoalan; pilihan yang membuat bimbang, masalah, dan kesedihan.
Persoalan-persoalan di atas mestinya memberikan kita pencerahan untuk lebih membawa perasaan, mood, dan perilaku ke arah yang lebih baik. Bahkan, dilain hari saya pernah terjangkit galau ini. Ada beberapa gejala yang saya rasakan ketika galau ini mendera. Oleh karena itu, saya mengklasifikasikan gejala tersebut menjadi enam kategori gejala akut dari galau, sebagai berikut:
1. Menuntut kebutuhan kepada diri tanpa ukuran (demans on the self)
Gejala ini sejatinya merupakan contoh pemaksaan dari seharusnya. Orang memunculkan kebutuhan diri yang tidak pernah berhenti. Sewarjarnya manusia. Akan tetapi, ketika mereka sudah mencapai titik keberhasilan atau kesuksesan mereka masih mengalami perasaan kekurangan dan menuntut bergerak menuju kesempurnaan. Celakanya, gejala ini terkadang luput akan kemampuan yang dimiliki.
2. Menyalahkan diri sendiri tanpa ampun (merciless self accusation)
Gejala ini biasanya diiringi dengan rasa bersalah dari diri sendiri. Menyalahkan diri sendiri bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari ekspresi luar biasa hebat. Semisal, merasa dirinya bertanggung jawab terhadap bencana alam yang terjadi, padahal bencana itu merupakan ujian dan cobaan bagi kita dari yang maha kuasa (Tuhan).
3. Menghina diri sendiri (self contempt)
Gejala ini berbeda dengan gejala sebelumnya, walaupun serupa tapi tak sama. Di ekspresikan dalam wujud memandang kecil, meremehkan, meragukan, mencemarkan, dan menertawakan diri sendiri. Anak muda kini mungkin berkata kepada dirinya sendiri, “kamu itu idiot yang sombong! Apa yang membuatmu berpikir bisa berpacaran dengan perempuan tercantik di kota ini?” Sedangkan, perempuan itu mengatakan bahwa sukses karirnya itu ‘nasib baik’.
4. Frustasi diri (self frustration)
Kebimbangan, dan kecemasan yang ditimbulkan dari galau itu seakan-akan telah membawa kita pada penundaan tujuan yang masuk akal. Hal ini disebabkan oleh pilihan-pilihan yang semakin rumit dan terlalu banyak. Sehingga menuntun kita kepada pembelengguan diri dengan tabu untuk menentang kesenangan.
5. Menyiksa diri (self torment)
Gejala ini sebenarnya termasuk gejala yang berbahaya. Biasanya, gejala ini mendorong kita untuk menyakiti diri sendiri baik itu melalui batin maupun fisik. Gejala ini juga melulu pada gejala sebelumnya. Sehingga kita seakan-akan mengalami penderitaan akibat suatu keputusan, memperparah sakit kepala, melukai diri sendiri dengan pisau kalau memang sudah mengalami titik frustasi yang berlebihan.
6. Hilangnya kepercayaan diri (self confidence)
Jikalau semua gejala sudah kita rasakan, maka ini merupakan gejala yang terakhir kita rasakan bahwa kita tidak percaya pada diri kita sendiri. Oleh karena itu, kita lebih memilih pengasingan diri kita dari dunia luar. Mencari tempat yang lebih intim, sunyi, dan suka akan keheningan.
Dari penuturan di atas sepatutnya kita perhatikan dengan serius. Galau yang selama ini menjadi tren, semestinya tidak diartikan dengan serius. Semua orang semestinya mengalami hal kegalauan itu, karena proses kegalauan juga termasuk dalam proses pembentukan kedewasaan seseorang. Akan tetapi, bilamana galau itu selalu dirawat secara rutin maka hilangnya prioritas hidup akan melanda bagi kita. Apabila, seseorang dilanda kegalauan, saya mempunyai saran bagi anda-anda sekalian. Pertama, tingkatkan kesadaran dalam diri anda, dan kesadaran bukan memahami kekurangan kita semata melainkan memahami apa yang sudah kita punya untuk saat ini dan kedepannya. Kedua, bersikaplah cuek saat kegalauan itu mendera, cuek di sini dalam arti bukan tidak peka melainkan kita mesti mengabaikan segala macam pikiran yang membuat kita hilang percaya diri dan siap menerima resiko atas pilhannya. Ketiga, peliharalah sifat bersyukur atas pilhan yang telah kita pilih dan selalu berterima kasih atas apa yang diberi oleh yang maha esa (Tuhan). Begitulah paparan analisis kecil saya mengenai galau. Semoga bermanfaat bagi pembaca. Sekian.

Read more

long life education

Teachers’ long life education. Kayaknya hal ini memang perlu. Bayangin aja kalau murid-murid diajar sama orang yang belajarnya ya itu-itu saja. Bisa-bisa mereka lebih pintar daripada gurunya. Hal ini saya angkat menjadi postingan pertama saya karena saya sendiri sekarang sedang memaksa diri dengan sepenuh-penuhnya untuk belajar di tingkat yang lebih tinggi. Bagaimana dengan guru-guru sekolah formal?
Pilihan-pilihan yang tersedia sekarang lebih banyak. Kalau dulu guru-guru harus mengeluarkan duit sendiri untuk belajar, sekarang tidak lagi. Sudah banyak fasilitas yang bisa di bantu oleh sekolah supaya guru-gurunya tetap meningkatkan diri. Tulisan ini menyediakan beberapa pilihan yang bisa diambil guru dalam rangka peningkatan diri agar selalu up-to-date dengan perkembangan jaman dan pendidikan.
Pilihan pertama yang memang fleksibel adalah pilihan kuno seperti yang saya sindir-sindir di atas—menempuh pendidikan dengan biaya sendiri. Pilihan ini memang sedikit berat tapi sama sekali tidak mengikat kita ke institusi dimana kita bekerja. Banyak Universitas ternama yang menyediakan program Master untuk para pemburu pendidikan. Salah satu yang saya tahu—sesuai dengan bakcground saya, Pendidikan Bahasa Inggris, ada dua Universitas yang akan saya jadikan contoh (sekali lagi bukan hanya tiga institusi ini yang ada, loh.).
1.Universitas Katholik Atma Jaya
Kampus ini menyediakan jurusan Applied Linguistics yang bisa ditempuh dalam jangka waktu selama 2 tahun. Kualitas kampusnya sudah terkenal bukan? Sekarang tinggal komitmen kita dalam belajar.
2.Universitas Negeri Jakarta
Lokasi kampus ini di daerah Rawamangun—Jakarta Timur. Kabarnya mereka berkerja sama dengan salah satu Universitas di Australia dan Vietnam. Jika kita belajar disana, ada program yang bisa kita ambil untuk melanjutkan belajar selama dua minggu di Vietnam dan kita akan lulus dengan Ijazah dari Universitas di Australia. Lumayan, kan?
Pilihan kedua menwarkan fleksibilitas tinggi namun menuntut komitmen yang lebih tinggi—Universitas Terbuka. Sudah banyak pilihan yang bisa diambil guru-guru untuk meningkatkan ilmu belajar mengajar. Saya yakin hal ini bukan sesuatu hal yang asing untuk para pendidik seperti kita.
Pilihan ketiga—masih swadaya guru—adalah dengan mengikuti program shortcourse yang tersedia di banyak negara. Teman saya seorang guru dari Solo memamerkan foto-fotonya selama dua minggu bekajar program kursus pendek di Australia.
Pilihan keempat adalah beasiswa yang bisa diberikan sekolah kepada guru-guru. Beberapa sekolah serius menginginkan gurunya maju dan menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Pilihan Universitasnya akan sedikit terikat tentunya. Tetapi saya pribadi berpikir itu bukan masalah asalkan tempat-tempat belajar itu tetap berkualitas.
Pilihan kelima yang sedikit memaksa adalah PPKHB—Pengakuan Pengalaman Kerja dan Hasil Belajar. Guru-guru yang belum sarjana bisa mendapatkan pendidikan dan menjadi sarjana melalui program ini. Sudah ada beberapa universitas yang dijadikan partner sekolah-sekolah, bukan?
Dengan tersedianya beberapa macam pilihan tersebut, guru bisa memilah dan memilih apa dan bagaimana kita semua mau meningkatkan diri dalam hal keilmuan. Sekarang pertanyaannnya kembali ke diri kita masing-masing sebagai pendidik. Masalahnya sudah harus bukan mau atau tidaknya kita, tetapi…kapan kita bisa mulai?
Ayo sekolah!

Read more

Perusakan lingkungan sebagai kekerasan

Oleh: Iwan Gunadi
DARI peristiwa eksploitasi kekayaan alam yang tak menyejahterakan masyarakat setempat, sehingga mereka berdemonstrasi, lalu terjadi konflik fisik antara mereka dan aparat keamanan, manakah yang termasuk kekerasan? Banyak orang dengan mudah akan menjawab: konflik fisik tersebut. Eksplorasi kekayaan alam seperti itu akan lebih dilihat hanya sebagai kesalahan kebijakan atau paling banter kerakusan sejumlah oknum.
Kekerasan memang seringkali dipahami secara sempit. Kekerasan cenderung dipahami secara tradisional: kekerasan orang terhadap orang secara langsung. Kekerasan hanya direduksi sebagai perilaku satu manusia terhadap manusia lain atau sekelompok manusia terhadap manusia lain untuk mempertahankan kekuasaan atau eksistensi manusia atau kelompok manusia tersebut. Kekerasan terhadap alam atau lingkungan hidup seperti tak disadari sebagai kekerasan.
Di sana, manusia atau kelompok manusia menjadi homo homini lupus, serigala bagi manusia atau kelompok manusia lain. Tak heran jika Thomas Hobbes mendefinisikan kekerasan sebagai keadaaan alamiah yang bersemayam di dalam diri manusia sebagai makhluk yang dikuasasi dorongan-dorongan irrasional, anarkis, dan mekanis yang saling mengiri dan membenci, sehingga menjadi kasar, jahat, buas, dan pendek pikir.
Kalau kekerasan dipahami dalam horizon yang sempit seperti itu, perusakan alam atau lingkungan hidup tak akan pernah dipandang sebagai tindakan yang sungguh-sungguh mengancam keselamatan manusia. Keselamatan manusia pada masa mendatang hanya menjadi sesuatu yang diasumsikan, diangankan, atau diandaikan terjadi. Ia cuma ilusi. Bukan sesuatu yang dipastikan mewujud. Sebab, masa depan sejatinya sesuatu yang belum pasti.
Kepastian hanya ada pada masa kini atau bahkan hari ini. Karena itu,  apa yang bisa diperoleh atau dinikmati dari alam harus diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan manusia pada masa kini atau bahkan hari ini tanpa peduli apakah prioritas tersebut akan mengancam keselamatan generasi penerus atau tidak. Yang pokok, manusia masa kini atau hari ini selamat.  Sebab, tanpa masa kini atau hari ini, tak ada masa depan.
Di titik itu, eksplorasi kekayaan alam yang berubah menjadi eksploitasi kekayaan alam tak akan pernah ditempatkan sebagai tindakan kekerasan. Begitu pula dengan perilaku lain yang tak menunjukkan keramahan pada alam, seperti menebang pohon dan membunuh satwa di hutan lindung, pembalakan liar atau illegal logging, pembuangan limbah pabrik ke sungai secara serampangan, pembuangan sampah secara sembarangan,  pencemaran udara, pemanfaatan kertas yang berlebihan, serta pembangunan gedung yang penuh dengan kaca.
Padahal, dalam konteks lingkungan dan pembangunan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menegaskan bahwa salah satu prinsip kunci pembangunan berkelanjutan adalah upaya “memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengesampingkan kemampuan generasi masa depan untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri”. Dalam konteks Indonesia, Pasal 33 Ayat 3 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 mengamanatkan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya perlu dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, baik generasi sekarang maupun mendatang.
Kalau kita tidak dapat bertindak untuk melindungi bumi, air, dan kekayaan alam, ongkos yang akan kita tanggung akan menjadi begitu langsung dan menekan lantaran konsekuensinya begitu besar. Anak-cucu kita pada masa mendatang pun akan membayar jauh lebih mahal karena beban yang kita wariskan begitu berat, yakni kerusakan alam yang sangat parah.
Kalau perilaku yang berhubungan langsung dengan alam atau lingkungan hidup saja tak ditempatkan sebagai tindakan kekerasan, apalagi perilaku yang tak berkaitan langsung. Padahal, perilaku tersebut bisa lebih mengancam keselamatan manusia masa kini sekaligus masa depan. Misalnya, konsep pembangunan dan produksi yang eksploitatif, korupsi dana reboisasi, korupsi dana penanganan bencana alam atau banjir, penyuapan atau penyogokan dalam kasus pelanggaran peraturan lingkungan hidup, kelalaian dalam pengawasan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, serta kelalaian dalam pengantisipasian kemungkinan terjadinya bencana alam atau banjir.
Populasi manusia di bumi diperkirakan melewati delapan miliar pada 2025, sedangkan pertumbuhan perekonomian global yang cepat akan makin memacu eksploitasi terhadap sumber daya alam. Akibatnya, dunia akan menghadapi kelangkaan sumber daya alam. Menurut Thomas F. Homer-Dixon, kelangkaan tersebut akan memiliki konsekuensi sosial yang mendalam: berkontribusi pada terjadinya pemberontakan, bentrokan etnis, kerusuhan sosial di perkotaan, dan bentuk lain kekerasan sipil, terutama di negara-negara berkembang. Di lini ekonomi, menurut John B. Cobb, perluasan produksi akan menambah kekerasan terhadap lingkungan, sehingga mempercepat kelelahan sumber daya dan pencemaran lingkungan.
Karena itu, setiap perilaku yang tak ramah lingkungan sudah saatnya ditempatkan sebagai tindakan kekerasan dalam perspektif yang luas sebagaimana dipahami Johan Galtung. Sosiolog kelahiran Oslo, Norwegia, 24 Oktober 1930, tersebut memang menerjemahkan kekerasan secara sangat luas. Baginya, kekerasan juga bisa muncul jika manusia dipengaruhi sedemikian rupa, sehingga realisasi jasmani dan mental aktualnya berada di bawah realisasi potensialnya. Tingkat realisasi potensial merupakan apa yang mungkin direalisasikan terhadap suatu kenyataan sesuai dengan tingkat wawasan, sumber daya, dan kemajuan yang telah dicapai pada zamannya. Dia menggabungkan tersedianya fasilitas dan mobilitas dengan kemauan baik untuk mengatasi kekerasan. Bila wawasan, sumber daya, dan hasil kemajuan disalahgunakan untuk tujuan lain atau dimonopoli segelintir orang saja, ada kekerasan dalam sistem tersebut.
Misalnya, banjir yang rutin terjadi di negeri ini. Hujan yang menjadi salah satu penyebab banjir memang tak dapat dipastikan kapan turunnya, tapi kita mengenal rentang masa ketika hujan biasa luruh ke bumi. Kita paham wilayah-wilayah yang rutin dilanda banjir. Kita juga mafhum bahwa tak biasanya masyarakat membuat sampah di tempatnya turut berpotensi mengundang banjir. Kalau kondisi-kondisi yang secara langsung atau tak langsung dapat memicu terjadinya banjir kurang atau tidak diantisipasi atau bahkan dibiarkan, pada saat yang sama, kekerasan telah dimulai. Ketika banjir meratakan banyak wilayah serta pelbagai alasan langsung dan tak langsung meluapkan ketidakmampuan atau kekurangmampuan penanganannya, kekerasan telah sungguh-sungguh menenggelamkan tubuh-tubuh masyarakat.
Karena itu, setiap perusak alam atau lingkungan hidup semestinya dikenai sanksi atau hukuman lebih berat. Bukan hanya sanksi administratif, penjara 1-15 tahun, dan denda Rp500 juta-Rp15 miliar sebagaimana yang dicantumkan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Sebab, taruhannya bukan hanya manusia dan makhluk hidup masa kini, tapi juga manusia dan makhluk hidup masa depan. Apalagi, misalnya, fakta menunjukkan, laju kerusakan hutan Indonesia yang 2,8 juta hektare per tahun terjadi akibat lemahnya pengawasan dan ringannya sanksi terhadap pelaku perusakan hutan. Kalau belum lama ini Ketua Mahkamah Konsititusi, Mahfud M.D., menyarankan pada hakim berani mengganjar setiap koruptur dengan hukuman mati lantaran peraturannya memungkinkan, apalagi sanksi terhadap setiap koruptur dana yang berkaitan dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
Sanksi sosial pun dapat ditimpakan kepada perusak alam atau lingkungan hidup. Cuma, hal itu butuh waktu yang panjang lantaran selama ini masyarakat tak menempatkan perusakan alam atau lingkungan dalam horison kekerasan. Untuk itu, penanaman kesadaran terhadap setiap pemimpin–baik formal maupun informal, mulai dari tataran terkecil seperti pemimpin keluarga hingga aras tertinggi seperti pemimpin negarA–setiap agen atau calon agen perubahan, dan setiap generasi penerus menjadi sangat penting.
Di sisi lain, setiap individu atau lembaga yang berperilaku atau berkontribusi pada upaya-upaya pelestarian alam atau lingkungan hidup juga mesti diapresiasi. Misalnya, pemberian insentif pajak terhadap perusahaan atau insitusi yang intens melakukan kegiatan-kegiatan yang ramah lingkungan. Atau, pengurangan tarif pajak bumi dan bangunan (PBB) atau pemberlakukan tarif PBB yang berbeda terhadap pemilik tanah dan bangunan  yang berperilaku ramah lingkungan. Misalnya, beranda rumahnya tak ditutup keramik ataupun adukan semen atau bahkan ditanami hingga rimbun dan dibikinkan lubang-lubang resapan air (biopori). Anugerah Kalpataru dapat diberikan pada aktivitas pelestarian alam yang lebih beragam, sehingga mampu mengakomodasi kegiatan-kegiatan yang lebih sederhana, tapi membumi dan inspiratif.

http://bintangwritingschool.wordpress.com/2010/06/11/esai-perusakan-lingkungan-sebagai-kekerasan/
Read more

Sabtu, 15 Desember 2012

Asal Mula Manusia

Asal Mula Manusia, Teori Evolusi Darwin vs Nabi Adam a.s

Jika kita berdebat tentang asal mula manusia, maka yang terpikir, terlintas, atau terbersit pertama kali dipikiran adalah teori evolusi Charles Darwin. Dalam teori evolusi Charles Darwin dijelaskan bahwa manusia pertama adalah kera, sedangkan dalam kitab suci umat Islam yaitu Al-Qur'an, dijelaskan bahwa manusia pertama adalah Nabi adam a.s. Namun, hingga saat ini para ilmuwan masih terus mencari bukti untuk memastikan asal mula manusia.
Sekarang saya ingin mengajak sobat berpikir terlebih dahulu, teori mana yang sekiranya mampu sobat logika kan? Mari kita pikirkan bersama-sama mulai dari sekarang..! Waktu berpikir habis. Ok, sekarang sobat simpan dulu jawaban sobat karena kita akan membahasnya sekarang bersama-sama. Sebelumnya, saya ingin mengibaratkan suatu percakapan yang mungkin terjadi antara seorang cucu dan seorang nenek moyangnya. Berikut saya sajikan percakapan mereka (Lucy sebagai Nenek Moyang dan Iva sebagai Cucu).

Klik untuk memperbesar

Yak, percakapan diatas muncul berdasarkan Teori Evolusi Cahrles Darwin. Berdasarkan logika yang sobat miliki, mungkinkah hal demikian terjadi? Mari kita bahas bersama-sama.

Teori Asal Mula Manusia menurut Charles Darwin
Pernyataan Darwin mendukung bahwa manusia modern berevolusi dari sejenis makhluk yang mirip kera. Selama proses evolusi tanpa bukti ini, yang diduga telah dimulai dari 5 atau 6 juta tahun yang lalu, dinyatakan bahwa terdapat beberapa bentuk peralihan antara manusia moderen dan nenek moyangnya. Menurut skenario yang sungguh dibuat-buat ini, ditetapkanlah empat kelompok dasar sebagai berikut: 
  1. Australophithecines
  2. Homo habilis
  3. Homo erectus
  4. Homo sapiens
Genus yang dianggap sebagai nenek moyang manusia yang mirip kera tersebut oleh evolusionis digolongkan sebagai Australopithecus, yang berarti "kera dari selatan". Australophitecus, yang tidak lain adalah jenis kera purba yang telah punah, ditemukan dalam berbagai bentuk. Beberapa dari mereka lebih besar dan kuat dan tegap, sementara yang lain lebih kecil dan rapuh dan lemahDengan menjabarkan hubungan dalam rantai tersebut sebagai "Australopithecus > Homo Habilis > Homo erectus > Homo sapiens," evolusionis secara tidak langsung menyatakan bahwa setiap jenis ini adalah nenek moyang jenis selanjutnya.


Asal Mula Manusia berdasarkan Al-Qur'an (Nabi Adam a.s)
Saat Allah Swt. merencanakan penciptaan manusia, ketika Allah mulai membuat “cerita” tentang asal-usul manusia, Malaikat Jibril seolah khawatir karena takut manusia akan berbuat kerusakan di muka bumi. Di dalam Al-Quran, kejadian itu diabadikan,
 












 ".. Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, 'Sesungguhnya, Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka, apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud" (QS. Al Hijr: 28-29). 

Firman inilah yang membuat malaikat bersujud kepada manusia, sementara iblis tetap dalam kesombongannya dengan tidak melaksanakan firman Allah. Inilah dosa yang pertama kali dilakukan oleh makhluk Allah yaitu kesombongan. Karena kesombongan tersebut Iblis menjadi makhluk paling celaka dan sudah dipastikan masuk neraka. Kemudian Allah menciptakan Hawa sebagi teman hidup Adam. Allah berpesan pada Adam dan Hawa untuk tidak mendekati salah satu buah di surga, namun Iblis menggoda mereka sehingga terjebaklah Adam dan Hawa dalam kondisi yang menakutkan. Allah menghukum Adam dan Hawa sehingga diturunkan kebumi dan pada akhirnya Adam dan Hawa bertaubat. Taubat mereka diterima oleh Allah, namun Adam dan Hawa menetap dibumi. Baca Surat Al-Baqarah Ayat 33-39.


Adam adalah ciptaan Allah yang memiliki akal sehingga memiliki kecerdasan, bisa menerima ilmu pengetahuan dan bisa mengatur kehidupan sendiri. Inilah keunikan manusia yang Allah ciptakan untuk menjadi penguasa didunia, untuk menghuni dan memelihara bumi yang Allah ciptakan. Dari Adam inilah cikal bakal manusia diseluruh permukaan bumi. Melalui pernikahannya dengan Hawa, Adam melahirkan keturunan yang menyebar ke berbagai benua diseluruh penjuru bumi; menempati lembah, gunung, gurun pasir dan wilayah lainnya diseluruh penjuru bumi. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah SWT yang berbunyi:













"Dan sesungguhnya Kami muliakan anak-anak Adam; Kami angkut mereka didaratan dan di lautan; Kami berikan mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyak makhluk yang telah Kami ciptakan." (QS. al-Isra' [17]: 70)



               
             Demikianlah dua pendapat tentang asal mula manusia. Jika sobat bertanya kepada saya, maka saya akan memilih option yang kedua. Drama penciptaan Adam di Surga memang sudah sangat melekat dibenak saya sejak masih kecil dan ingusan. Tentu saja ini benar adanya, karena seluruh keluarga saya beragama Islam. Pengetahuan demikian sudah diajarkan oleh kedua orang tua saya sejak masih kecil. Tidak hanya berasal dari kedua orang tua, pengetahuan demikian juga saya peroleh dengan cerita yang sama saat duduk di bangku sekolah dasar. Keyakinan saya semakin kuat, apalagi saya seorang Islam. Bertolak ukur dari keyakinan saya terhadap Al-Qur'an maka saya sangat mengerti dan paham akan drama penciptaan adam disurga tersebut.
Read more

KANKER PAYUDARA

Apa itu kanker payudara ?

Kanker payudara adalah keganasan yang bermula dari sel-sel di payudara. Hal ini terutama menyerang wanita, tetapi tidak menutup kemungkinan terjadi juga pada pria.

Anatomi Payudara Wanita

Kanker payudara adalah suatu penyakit dimana sel-sel ganas terbentuk pada jaringan payudara. Mari kita pelajari struktur anatomi payudara normal.

anatomi payudara
Gambar Anatomi Payudara

Payudara wanita terdiri dari kelenjar yang membuat air susu ibu (disebut lobulus), saluran kecil yang membawa susu dari lobulus ke puting (disebut duktus), lemak dan jaringan ikatnya, pembuluh darah, dan kelenjar getah bening. Sebagian besar kanker payudara bermula pada sel-sel yang melapisi duktus (kanker duktal), beberapa bermula di lobulus (kanker lobular), dan sebagian kecil bermula di jaringan lain.

Sistem Getah Bening

Sistem getah bening adalah salah satu cara utama kanker payudara menyebar. Sel-sel kanker payudara dapat memasuki pembuluh limfe dan mulai tumbuh di kelenjar getah bening. Jika sel-sel kanker payudara telah mencapai pembuluh getah bening di ketiak (node axilaris), tandanya adalah pembengkakan kelenjar getah bening di ketiak. Bila ini terjadi maka kemungkinan besar sel-sel kanker juga masuk ke aliran darah dan menyebar ke organ tubuh lainnya. Hal ini dapat mempengaruhi opsi pengobatan kanker dari dokter Anda.

Benjolan Payudara Bukan Kanker

Kebanyakan benjolan yang terjadi pada payudara adalah bukan kanker. Namun demikian, beberapa perlu diteliti dibawah mikroskop untuk memastikan mereka bukan kanker.

Perubahan Fibrokistik

Kebanyakan benjolan di payudara ternyata hanyalah perubahan fibrokistik. Istilah fibrokistik mengacu pada fibro dan kista. Fibrosis adalah pembentukan jaringan parut, sedangkan kista adalah kantung berisi cairan. Perubahan fibrokistik dapat menyebabkan payudara bengkak dan nyeri. Seringkali terjadi sebelum periode menstruasi dimulai. Payudara dapat terasa kenyal dan kadang keluar cairan bening/susu dari puting.

Jenis-jenis Kanker Payudara

Ada banyak jenis kanker payudara, namun beberapa di antaranya sangat langka. Kadang suatu tumor payudara tunggal dapat merupakan perpaduan dari jenis dibawah ini atau campuran antara kanker invasif dan in situ.

Duktal Karsinoma in situ (DCIS): ini adalah tipe kanker payudara non-invasif paling umum. DCIS berarti sel-sel kanker berada di dalam duktus dan belum menyebar keluar dinding duktus ke jaringan payudara disekitarnya.

Sekitar 1 dari 5 kasus baru kanker payudara adalah DCIS. Hampir semua wanita dengan kanker pada tahap awal ini dapat disembuhkan. Sebuah mamografi seringkali adalah cara terbaik untuk deteksi dini DCIS.

Ketika terdiagnosa DCIS, ahli patologi biasanya akan mencari area dari sel-sel kanker yang telah mati, disebut nekrosis tumor dalam sample jaringan. Bila nekrosis ditemukan, maka tumor agaknya lebih bersifat agresif. Istilah comedocarsinoma kadang digunakan untuk menjelaskan DCIS dengan nekrosis.

Lobular karsinoma in situ (LCIS): Meskipun sebenarnya ini bukan kanker, tetapi LCIS kadang digolongkan sebagai tipe kanker payudara non-invasif. Bermula dari kelenjar yang memproduksi air susu, tetapi tidak berkembang melewati dinding lobulus.

Kebanyakan ahli kanker berpendapat bahwa LCIS sendiri sering tidak menjadi kanker invasive, tetapi wanita dengan kondisi ini memiliki resiko lebih tinggi untuk berkembang menjadi kanker payudara invasive pada payudara yang sama atau berbeda. Untuk itu, mamografi rutin sangat disarankan. Invasif (atau infiltrating) Duktal Karsinoma (IDC): Ini adalah kanker payudara paling umum dijumpai. Bermula dari duktus, menerobos dinding duktus, dan berkembang ke dalam jaringan lemak payudara. Pada titik ini, itu mungkin menyebar (bermetastasis) ke organ tubuh lainnya melalui sistem getah bening dan aliran darah. Sekitar 8 dari 10 kanker payudara invasive adalah jenis ini. Invasif (infiltrating) Lobular Karsinoma (ILC): kanker ini dimulai dalam lobulus. Seperti IDC, ia dapat menyebar (bermetastasis) ke bagian lain dari tubuh. Sekitar 1 dari 10 kanker payudara invasif adalah dari jenis ini. ILC lebih sulit terdeteksi melalui mammogram daripada IDC.

Jenis-jenis Kanker Payudara yang Jarang Terjadi

Kanker Payudara Terinflamasi (IBC): Jenis kanker payudara invasif yang jarang terjadi ini, statistiknya adalah sekitar 1-3% dari semua kasus kanker payudara. Biasanya tidak terjadi benjolan tunggal atau tumor. Sebaliknya, IBC membuat kulit payudara terlihat merah dan terasa hangat. Hal ini juga membuat kulit payudara tampak tebal dan mengerut, seperti kulit jeruk. Dokter biasanya baru mengetahui bahwa perubahan ini bukan disebabkan oleh inflamasi/peradangan atau infeksi, tetapi karena sel-sel kanker telah memblokir pembuluh getah bening di kulit. Payudara yang terkena biasanya lebih besar, kenyal, lembek atau gatal. Pada tahap awal, jenis kanker ini kadang salah diartikan sebagai infeksi payudara (mastitis) dan diobati dengan antibiotic. Bila tidak juga membaik, biasanya dokter akan menyarankan biopsy. Karena tidak terjadi benjolan, jenis ini biasanya tidak terdeteksi saat mammogram. Jenis kanker ini biasanya cenderung menyebar dan kelihatannya lebih buruk daripada tipe IBC ataupun ILC.

Penyakit Paget pada Puting: Jenis kanker payudara ini dimulai pada duktus dan menyebar ke kulit puting dan kemudian ke areola (lingkaran gelap di sekeliling putting). Jenis ini jarang terjadi (hanya sekitar 1% dari semua kasus kanker payudara). Tandanya adalah kulit puting dan areola pecah-pecah, bersisik, dan merah, dengan adanya area berdarah. Pasien biasanya melihat adanya area yang seperti terbakar atau gatal.

Penyakit Paget seringkali diasosiasikan dengan DCIS, atau lebih sering IDC. Pengobatannya seringkali memerlukan mastektomi. Jika DCIS hanya ditemukan (tanpa kanker invasif), ketika payudara diangkat, harapan sembuhnya sangat baik.
Read more

Senin, 03 Desember 2012

hormon cinta dan hormon galau

  

Capek juga coret-coret tentang kontroversi efek samping obat herbal, waspada obat herbal, rasionalisasi obat herbal semuanya tentang herbal karena prihatin lihat pembodohan masarakat yang terkesan dibiarkan tentang Obat Herbal yang katanya nggak ada efek samping. hhmmm..yang kaya produsennya yang jadi korban ya tetap masyarakat awam. sekarang ganti topik coretan tentang "Galau" dilihat dari sisi Science hehee..

Sepertinya awal tahun 2010 kata-kata galau menjadi semakin ngeTrend sampai-sampai Bpk Presiden kita yang backgrounnya dari militer juga ikutan galau hehee... bahkan sekarang ada acara di TV nasional “Galau Nite” tayang tiap malam minggu (biasanya orang pacaran tiap malam minggu hehee..) galauers ini adalah para Jomblowan dan Jomblowati malam minggu nggak ngapel dan nggak diapelin santai aja bro...and sist...katanya “Jomblo itu Pilihan”. Sebenernya apa sih arti galau kok bisa jadi Trend sekarang.
Katanya kamus besar Indonesia Galau bersinonim dengan bimbang, bingung, cemas, gelisah, hilang akal, kacau, karut, keruh, khawatir, kusut, resah, risau, senewen, was-was. Lalu pengertiannya galau bagaimana ? susah niih kalau diartikan secara harfiah bisanya kalau dirasain sendiri baru ngerti deh artinya galau hehee...
Tahukah kamu ternyata hormon dalam tubuh kita memiliki peran yang besar saat kita merasa galau. Contoh saja galau saat “falling in love” pertama merasakan tertarik dengan lawan jenis, kedua deg-deg’an, salah tingkah saat bertemu, ketiga wajahnya selalu terbayang-banyang, keempat bisa senyum-senyum sendiri dst, bener kann,..hehee..itu adalah proses alamiah tubuh terhadap respon hormon yang sedang bekerja.
Antropolog biologi dari Rutgers University, Helen Fisher, menyatakan bahwa ada 3 tahap dalam cinta, yang disebutnya : lust, attraction, dan attachment, yang masing-masing tahap itu diatur oleh hormon dan atau senyawa kimia yang berbeda.

Tahap 1 : Lust (hasrat, keinginan, desire)
Tahap ini diawali dengan ketertarikan atau gairah terhadap lawan jenis, yang dipengaruhi oleh hormon sex yaitu Testosteron dan Estrogen, pada pria dan wanita. Ini dimulai dari masa pubertas, di mana seseorang mulai tertarik dengan lawan jenisnya. Kecuali “Maho” dan “Males” yaa hehee..(kelainan hormon)
Tahap 2 : Attraction
Tahap ini merupakan tahap yang “amazing” ketika seseorang benar-benar sedang jatuh cinta dan tidak bisa berpikir yang lain. Menurut Fisher, setidaknya ada 3 neurotransmiter yang terlibat dalam proses ini, yaitu adrenalin, serotonin, dan dopamin.
Adrenalin
Tahap awal ketika “Falling in love” akan mengaktifkan semacam “fight or flight response”, yang akan meningkatkan pelepasan Adrenalin dari ujung saraf. Adrenalin akan bertemu dengan reseptornya di persarafan simpatik, dan menghasilkan berbagai efek seperti percepatan denyut jantung (takikardi), aktivasi kelenjar keringat, menghambat salivasi. Inilah tersangkanya yang menyebabkan jantung berdebar-debar, berkeringat dingin, mulut terasa kering bahkan sampai Salting a.k.a salah tingkah saat bertemu secara sengaja atau tidak dengan si “Dia”. Iya, nggak...? :D
Dopamin
Pada penelitian tersebut ditemukan tingginya kadar dopamin pada otak orang yang baru “jadian”. Dopamin adalah suatu senyawa di otak yang berperan dalam sistem “keinginan dan kesenangan” efeknya hampir serupa dengan seorang yang menggunakan kokain Kadar dopamin yang tinggi di otak menyebabkan energi yang meluap-luap, berkurangnya kebutuhan tidur karena energi yang meluap atau kurang makan, dan perhatian yang terfokus serta perasaan senang yang indah (exquisite delight) terhadap berbagai hal kecil pada hubungan cinta mereka…. Dopamin juga merupakan neurotransmiter yang menyebabkan adiksi (ketagihan) termasuk adiksi dalam cinta. Seperti  orang yang mengalami addiksi cocain atau ecstassy (obat yang menyebabkan penghambatan re-uptake dopamin) Secara neurobiologi keadaannya sama… yaitu level dopamin yang tinggi di otak
Singkat ceritanya niih...saat “falling in love” Dopamin menyebabkan
  1. Energi meluap-luap = orang yang lagi jatuh cinta itu pasti tidak akan merasa lelah kalaupun harus berjalan berkilo-kilometer kalau itu dijalani bersama yang lagi dicintai, iyaa kan.. hehee..
  2. Jadi nggak lapar dan susah tidur = asal bareng dia seharian, lapar pun tidak berasa hehee..*yang punya maag hati-hati kambuh
  3. Perhatian yang terfokus = jadi super perhatian sama di Dia
  4. Perasaan senang yang indah = jadi senyum-senyum sendiri *ati-ati dikira orang gila Bos !!,..hehee..
Serotonin
Ketika jatuh cinta, kadar serotonin otak menurun. Serotonin merupakan neurotransmiter yang terlibat dalam obsesi. Turunnya level serotonin inilah yang menyebabkan mengapa ketika kita jatuh cinta, wajah si dia selalu terbayang-bayang terus di kepala…. terobsesi terhadap si dia. Keadaan ini mirip dengan keadaan orang dengan gangguan Obsessive Compulsive Disorder (sedikit mendekati Gila) Ada obsesi atau keinginan terhadap sesuatu dan ada dorongan (kompulsi)  untuk berulang-ulang melakukan sesuatu  untuk mencapai keinginan (obsesi)-nya. Misalnya terobsesi untuk mendengar suara si dia telpon berjam-jam kalau pulsa belum habis belum selesai hehee,..ada lagi nih ngeliatin Fotonya terus bahkan sampai mau tidur hahaa...bener kaan..?
Tahap 3 : Attachment
Tahap ini adalah tahap ikatan yang membuat suatu pasangan bertahan untuk jangka waktu yang lama, dan bahkan untuk menikah dan punya anak. Para ilmuwan menduga bahwa ada 2 hormon utama yang lain yang terlibat dalam perasaan saling mengikat ini, yaitu oksitosin dan vasopresin.
Oxytocin – The cuddle hormone (hormon untuk menyayangi)
Oksitosin adalah salah satu hormone yang dilepaskan oleh pria maupun wanita ketika mereka berhubungan seksual, yang membuat mereka menjadi lebih dekat satu sama lain. Oksitosin juga merupakan hormone yang dilepaskan oleh sang ibu ketika proses melahirkan dan merupakan hormon pengikat kasih sayang ibu dengan anaknya. "Hormon ini menciptakan perasaan tenang dan kedekatan," kata Carol Rinkleib Ellison, seorang psikolog di Loomis, California dan mantan asisten profesor di University of California, San Francisco. Menurut saya hormon ini mempengaruhi tingkat “falling in love” tertinggi karena mengartikan rasa menyayangi seperti hubungan rasa sayang antara ibu dan anak.
Vasopressin
Sedangkan vasopressin adalah hormone penting lainnya yang menjaga komitmen hubungan suatu pasangan. Hubungan yang berjalan cukup lama biasanya menimbulkan ikatan saling membutuhkan, menjaga, menyayangi satu sama lain dan memiliki rasa setia kepada pasangan. Artinya hormon Vasopressin kalian berdua bekerja aktif. Hormon Vasopressin lah yang selama ini mendorong kamu dan dia untuk terus menjalin hubungan dan menimbulkan rasa setia satu sama lain. Hormon ini yang paling so sweet dehh... hehee..
Jadi kalau ada orang yang Galau karena cinta hormon-hormon inilah tersangka utamanya. Perasaan jatuh cinta itu bisa sangat mempengaruhi mood seseorang…Kalau perasaan sedang sehati dengan dia, hidup terasa indah berbunga-bunga tiada duanya Tapi kalau sedang bertepuk sebelah tangan, Dunia serasa bertaburan bunga bangkai hahaa..*lebay.com
keep moving guy’s... life is not only about him or her, it’s about your future not your past.
Hormon-hormon cinta itu memang “sesuatu” banget saat “falling in love” tapi perlu hati-hati ya guy’s ternyata ada efek buruknya juga lhoo dari hormon-hormon cinta itu. Kita bahas di coretan selanjutnya see u...

Aji Wibowo,S.Farm.,Apt
Semoga Bermanfaat Wallahu a’lam bishshawab
Sumber : zulliesikawati.wordpress.com dg penambahan seperlunya

Hormon Cinta dan Hormon Galau http://farmatika.blogspot.com/2012/04/hormon-cinta-dan-hormon-galau.html#ixzz3sxHhlkpA
Read more